Sunday, 11 April 2010

Belajar menulis

Sebenarnya saya paling tidak suka menulis, tapi beberapa bulan terakhir ini dari sisi pekerjaan sehari-hari, saya dituntut untuk banyak menulis. Rasanya memang berat untuk menulis. Jujur saja, saya mengacungkan jempol dan apresiasi tinggi buat penulis buku, artikel di koran atau majalah, atau penulis di blog yang bisa menghasilkan tulisan yang mengalir enak untuk dibaca.

Photobucket

Bulan lalu, saya sempat mengikuti kursus menulis selama 2 hari di Bandung. Di kursus itu, saya banyak menimba ilmu dari beberapa penulis fiksi dan penulis artikel yang bisa mengirimkan artikelnya ke koran ternama.


Satu pernyataan tentang menulis yang sampai sekarang melekat di benak saya adalah menulis itu sama dengan bercerita. Di salah satu sesi kursus itu diperlihatkan bagaimana salah satu peserta disuruh maju untuk bercerita secara lisan mengenai kota Bandung. Ternyata dia dapat bercerita dengan lancar sampai 20 menit tanpa jeda. Namun pada saat peserta tersebut disuruh menuangkan cerita tadi ke dalam bentuk tulisan, ternyata peserta tersebut membutuhkan waktu lebih dari 2 jam untuk menulis. Ya memang menulis membutuhkan latihan, latihan dan latihan.

Kembali ke tulisan di pekerjaan saya tadi, beberapa kali saya sempat mengalami stres berat ketika batas waktu semakin mendekat namun tulisan saya belum selesai juga. Rasanya kok ada sesuatu yang menghalangi aliran informasi dari otak ke keyboard komputer ataupun ke secarik kertas.

Pernah ada teman kantor yang menyarankan saya mencari suasana yang berbeda bila mengalami kebuntuan saat menulis. Ya mungkin saran tadi bagus untuk dicoba, tapi apa iya hal itu bisa saya lakukan kalau saya sudah ada di kantor? Apalagi kota Jakarta muacetnya pol. Apa bisa cari tempat yang enak di sekitar Jakarta untuk menulis? Kok kayaknya gak ada ya? Pernah saya coba pas istirahat makan siang, saya makan siang di café di sebuah mal dekat kantor. Boro2 mau nulis, lha ramenya minta ampun. Berisik banget.

Dua minggu lalu, bos saya bilang “Lo kalau mau bisa nulis bagus, coba deh bikin blog dan elo nulis apa aja di blog itu.. mau bagus atau jelek gak apa-apa. Yang penting elo nulis dulu.” Saya jadi ingat bahwa saya pernah bikin blog mengenai personal finance.. ya, blog ini yang bernama Kelola Dana, tapi sudah lama banget tidak saya update. Dari omongan bos saya itu, saya mulai mencoba menulis di blog ini. Mudah-mudahan saja semangat latihan menulis ini tidak meredup lagi…hehehe..

Untuk dapat meningkatkan ilmu menulis ini, saya mohon kepada bapak, ibu, mbak, mas, adik yang sempat mampir di blog ini… tolong dong share pengalaman anda latihan menulis… terima kasih banyak sebelumnya.
Baca Selengkapnya......

Saturday, 10 April 2010

Bagaimana menentukan jumlah sumbangan untuk undangan pesta kawinan?

Pada akhir minggu ini saya mendapat undangan kawinan dari teman kantor yang lebih junior. Terus terang saya bingung untuk menentukan jumlah uang yang nantinya saya sumbangkan ke kawinan tersebut. Eh lagi asik menulis artikel ini, tiba-tiba ada undangan kawinan lagi yang diantar pos. Tambah bingung nih.




Kenapa bingung?

Secara tidak tertulis sudah ada persepsi yang berkembang dan diterima di masyarakat, khususnya di kawasan perkotaan, bahwa undangan kawinan sebenarnya sama saja dengan undangan untuk menyumbang. Oke ini bisa saya terima, namun bagaimana dengan menentukan jumlah uang sumbangannya? Nyumbang sedikit ntar dinilai pelit, tapi kalau nyumbang banyak kok kayaknya sayang ya buang uang aja.

Saya pernah minta pendapat kepada beberapa teman tentang hal ini, kebanyakan mereka gak mau ambil pusing dan ada yang bilang tabu lah ngomongin sumbangan. Mungkin bagi sebagian dari anda juga, hal ini merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan, tapi saya akan coba angkat hal yang sedikit tabu ini sedikit ke permukaan. Setidaknya saya juga butuh komentar atau masukan dari anda tentang pengalaman dan persepsi anda.

Disini akan saya coba buka beberapa parameter yang mungkin bisa dijadikan patokan untuk menentukan besaran jumlah uang sumbangan untuk kawinan.



Saya sudah coba googling masalah ini dan ketemu ini. Ternyata mereka juga pada bingung. Oke deh daripada bingung, saya coba buka diskusi.

Bingung karena dalam hal jumlah uang sumbangan kawinan ini kita bicara masalah persepsi.

Kalau gak mau bingung ya kita harus cuek dengan persepsi. Misalnya semua undangan kawinan kita sumbang Rp100 ribu, tidak membedakan siapa yang mengundang, acaranya kawinannya mewah atau sederhana dan lain sebagainya. Dahulu, saya pernah menggunakan cara ini dan ternyata tidak ada dampak sosial kepada saya atau keluarga saya. Mungkin saja sih, salah satu atau beberapa dari pasangan yang menikah atau keluarganya membicarakan saya yang nyumbang hanya Rp100 ribu. Tapi saya cuek aja lah. Kalau mereka kecewa dengan jumlah sumbangan saya ya salahnya mereka sendiri memainkan persepsi lebih tinggi dari saya.

Tapi dengan berjalannya umur, tingkat karir dan status sosial, ternyata saya sekarang ini sulit untuk kembali cuek. Pikiran saya mulai dihinggapi pikiran2 yang berhubungan dengan persepsi tadi. Misalnya “masa si boss nyumbangnya cuman segini sih…, pelit amat!!” atau “wah gak balik modal nih….” Kalau yang ini mungkin anggapan orang tua yang sudah merogoh kocek utk ngongkosin pesta kawinan anaknya.
Dalam benak saya ada pemikiran sebagai berikut: ada beberapa parameter dari pihak yang mengundang dan yang diundang mungkin bisa digunakan untuk menentukan jumlah uang sumbangan, yaitu: yang mengundang (kedekatan kekerabatan dengan yang diundang, kedekatan dalam hubungan pekerjaan dengan yang diundang, status sosial, mewah tidaknya acara kawinan), yang diundang (status sosial dan juga kondisi keuangan). Mungkin masih ada parameter lain, namun saya hanya membatasi parameter tersebut. Kalau parameternya lebih banyak, malah jadi bingung lagi.

Nah tahap berikutnya tinggal kita menerapkan sejumlah uang sumbangan (tarif) untuk setiap parameter. Semisal saya menggunakan dasar jumlah sumbangan Rp100 ribu sebagari tarif dasar, maka setiap parameter “yang mengundang” masuk dalam persepsi positif saya akan saya tambahkan Rp100 ribu untuk tiap parameter.
Jadi kalau yang mengundang dekat dg saya akan saya tambahkan Rp100 ribu. Kalau tidak begitu dekat ya saya tambahkan Rp50 ribu. Untuk status sosial, ini juga parameter positif Rp 100 ribu dan kalau pestanya mewah saya tambahkan Rp100 ribu lagi. Total saya akan menyumbang kawinan maksimal sebesar Rp300 ribu. Untuk parameter yang diundang merupakan parameter untuk konfirmasi. Misalnya status sosial yang diundang (dalam hal ini saya) misalnya lebih rendah dari yang mengundang, maka saya tidak akan melakukan penambahan atau pengurangan jumlah sumbangan. Namun kalau status sosial yang mengundang justru dibawah saya, maka akan saya tambahkan Rp100ribu. Untuk parameter kondisi keuangan, bila kondisi keuangan saya baik maka saya bisa saja saya menambahkan jumlah sumbangan atau tidak merubah jumlah sumbangan. Namun kalau kondisi keuangan saya sedang tidak baik maka parameter ini saya gunakan sebagai pengurang jumlah sumbangan, misalnya saya kurangkan Rp100 ribu.

Mungkin pandangan saya ini tidak lazim, tapi setidaknya pandangan saya bisa dijadikan pijakan untuk membantu saya sendiri untuk menentukan jumlah sumbangan kawinan. Bagaimana pengalaman dan cara anda?

Baca Selengkapnya......

Peringatan

Sebenarnya saya mau menulis judul berupa DISCLAIMER, tapi kayaknya lebih baik menggunakan kata dari bahasa Indonesia. Saya coba cari padanan kata Disclaimer adalah sangkalan atau penolakan. Kok kayaknya gak cocok juga ya. Ya coba memakai kata peringatan. Mudah2an tidak salah ya.

Pertama, kalau anda ingin kaya raya secara instan atau cepat, ya anda salah besar kalau cari ilmu itu di blog Kelola Dana ini. Blog ini tidak akan mengajarkan atau berbagi ilmu mengenai cara cepat menjadi kaya raya... Cepat kaya sebenarnya hanya ilusi saja. Saya sendiri tidak kepingin cari tahu bagaimana bisa cepat kaya raya... hehehe. Kenapa? Karena saya lebih menikmati semua proses untuk menuju ke kondisi yang lebih baik atau lebih kaya.

Kedua, semisal anda sudah baca satu atau banyak artikel di blog ini terus anda menerapkannya dan kemudian anda jadi tambah kaya ya syukur... tapi kalau anda mengalami kerugian materi atau non-materi..ya mohon maaf. Mungkin ada yang salah dalam intepretasi saya atau juga intepretasi anda dalam memahami sebuah ilmu, selain itu ada berbagai macam faktor risiko yang sulit dikendalikan oleh kita.

KEGIATAN PENGELOLAAN DANA DAN INVESTASI MENGANDUNG RISIKO-RISIKO YANG DAPAT MENGAKIBATKAN KERUGIAN MATERI DAN NON-MATERI. TULISAN DI BLOG INI DITUJUKAN HANYA UNTUK EDUKASI DAN INFORMASI. KERUGIAN MATERI DAN NON-MATERI YANG MUNGKIN TIMBUL DARI KEGIATAN INVESTASI SETELAH MENERAPKAN INFORMASI DARI BLOG INI ADALAH TANGGUNG JAWAB PENUH PEMBACA BLOG ATAU ANDA SENDIRI.

DENGAN TELAH MEMASUKI DAN MEMBACA BLOG KELOLA DANA, ANDA SETUJU BAHWA SAYA/PENGELOLA BLOG KELOLA DANA TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEGALA BENTUK KERUGIAN YANG KEMUNGKINAN TIMBUL AKIBAT DARI MEMBACA ARTIKEL/PENDAPAT SAYA DI BLOG KELOLA DANA. PEMBACA BLOG SETUJU BAHWA TIDAK AKAN MELAKUKAN SEGALA BENTUK UPAYA HUKUM BILA MENGALAMI KERUGIAN MATERI DAN NON MATERI ATAS INVESTASI DAN PENGELOLAAN DANA BERDASARKAN INFORMASI DARI BLOG KELOLA DANA.


Terima kasih atas perhatian anda.




Baca Selengkapnya......

Siapa saya ?

Banyak teman saya memanggil saya Aji.

Terus terang saya bukan seorang ahli perencanaan keuangan seperti Pak Safir Senduk atau Ibu Ligwina Hananto atau ahli-ahli ilmu keuangan lainnya. Saya hanya orang biasa saja yang kebetulan mempunyai sedikit pengalaman di bidang pasar keuangan dan mempunyai passion untuk belajar dan berbagi mengenai berbagai hal yang berhubungan erat dengan perencanaan keuangan dan investasi. Saya yakin ilmu pasar keuangan yang saya miliki dapat dikombinasikan dengan ilmu pengelolaan keuangan pribadi sehingga ilmu pengelolaan keuangan pribadi menjadi lebih komplit.

Keinginan saya membuat blog ini sih sederhana saja, yaitu belajar dan berbagi ilmu mengenai pengelolaan keuangan pribadi ke semua orang yang ingin belajar bersama. Jika banyak orang tahu bagaimana mengelola keuangan pribadi secara benar, saya yakin masa depan orang tersebut akan jauh lebih baik. Dan yang lebih penting tidak perlu korupsi untuk bisa hidup lebih dari cukup.


Kalau anda tidak keberatan, saya ingin cerita sedikit tentang perjalanan pengalaman menimba ilmu di sekolah dan di pekerjaan sebagai berikut : saya dilahirkan di sebuah kota di Jawa Tengah dan sempat belajar di sebuah kota yang nyaman di sebelah selatan Jawa. Setelah menamatkan pendidikan sarjana, saya beruntung diterima di sebuah perusahaan pembiayaan keuangan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pihak asing. Terus terang saya tidak betah kerja di lembaga asing tersebut. Lagi-lagi saya merasa beruntung dapat diterima di sebuah lembaga yang lebih besar dan keren, namun lagi-lagi lembaga tersebut bergerak di bidang keuangan. Tampaknya perjalanan hidup saya tidak bisa jauh-jauh dari bidang keuangan. Di lembaga keuangan terakhir itu, saya diberi pelatihan untuk menjadi dealer di pasar FOREX (Foreign Exchange) dan Surat-surat Berharga Internasional, seperti US Treasury, Japanese Bond dan lain sebagainya. Setelah bekerja menjadi dealer selama 7 tahun, saya kembali beruntung diberi kesempatan untuk belajar setingkat S2 di negara Inggris. Tadinya saya mau belajar yang tidak ada hubungannya dengan uang, namun apa boleh dikata, ternyata saya diharuskan belajar mengenai investasi.... oalah.. kok ya belajar tentang uang lagi..uang lagi....

Ternyata kuliah S2 di Inggris susahnya minta ampun... Sudah bahasa inggris saya pas-pasan, eh banyak dosen yang kalau mengajar menggunakan bahasa inggris ningrat.... yang saya enggak ngerti babar blas... Alhasil saya harus pasang strategi untuk bisa bertahan dan berhasil. Alhamdulillah, berkat dorongan sang istri tercinta dan kerja keras, saya bisa lulus dan menggondol gelar MSc. Saya sendiri sampai sekarang ini masih merasa surprise kok ya bisa lulus ...hehehehe.

Habis pulang dari Inggris, saya ditugaskan di kantor perwakilan lembaga keuangan tersebut yang berada di kota New York, USA. Saya dipercaya untuk mengelola sejumlah dana yang cukup besar. Syukur saya bisa mengelola dengan baik sehingga bisa mendapatkan keuntungan yang besarnya jauh melebihi target. Selama saya di New York, saya banyak belajar mengenai bagaimana “memutar” uang, termasuk didalamnya saya banyak belajar mengenai saham dan obligasi. Dari pengalaman di New York ini saya dapat memahami bagaimana orang kaya akan semakin tambah kaya dan ternyata ekonomi dunia yang berjalan dengan fondasi ekonomi pasar akan cenderung untuk mengalami ketidakseimbangan yang lebih disebabkan oleh faktor fear & greed.

Setelah ditempatkan di NY selama 3,5 tahun, saya balik lagi ke Jakarta dan sampai sekarang diberi tugas yang lebih banyak berhubungan dengan moneter dan manajemen nilai tukar.

Kayaknya saya terlalu panjang bercerita ya? Mudah2an anda gak jadi bosan. Oke deh, sekian dulu cerita tentang saya.

Akhir kata, saya mengharapkan bahwa semoga blog Kelola Dana ini dapat memberikan manfaat bagi anda. Mudah2an anda juga mau bagi-bagi cerita dan ilmunya ya… silahkan mengirimkan via email atau memberikan komentar anda.

Salam,
aji



Baca Selengkapnya......

Mengenai Blog Kelola Dana

Kelola Dana adalah sebuah blog yang berisi kumpulan tulisan-tulisan saya mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan keuangan pribadi/keluarga. Hubungan tersebut bisa berhubungan langsung atau tidak langsung dengan mengelola dana. Bisa juga sama sekali tidak berhubungan...hehehe. Sebenarnya tujuan saya menulis ini untuk menunjang pembelajaran saya sendiri terhadap ilmu keuangan pribadi/keluarga yang saya sadari sangat penting buat masa depan keluarga saya. Selain itu, saya menulis untuk eksplorasi bagaimana mengkombinasikan ilmu keuangan/investasi yang saya dapatkan dari pekerjaan dengan ilmu keluangan pribadi/keluarga. Kalaupun anda merasa tulisan ini dapat membantu anda, saya akan merasa bersyukur.

Tulisan-tulisan tersebut dapat berasal dari pengamatan dan analisa saya secara pribadi, hasil diskusi dengan teman, dan atau hasil membaca dari berbagai sumber informasi, misalnya dari buku, tulisan blog lain, majalah dan lain sebagainya.
Saya sebenarnya bukan penulis handal yang bisa membuat tulisan dengan baik. Meskipun demikian, tulisan-tulisan di Blog ini akan saya upayakan mudah dipahami oleh anda semua... Mudah-mudahan, dengan berjalannya waktu, kemampuan menulis saya juga bisa meningkat dan dapat menghasilkan tulisan yang lebih baik.

Tujuan Blog Kelola Dana
Masih banyak orang di sekeliling kita (termasuk saya sendiri yang masih harus banyak belajar) yang belum mengetahui mengenai bagaimana caranya mengelola keuangan pribadi/keluarga secara baik. Blog Kelola Dana ini bertujuan untuk saling berbagi informasi mengenai cara mengelola keuangan pribadi/keluarga. Dengan saling berbagi informasi tersebut, mudah-mudahan semakin banyak orang melek ilmu keuangan dan dapat hidup lebih baik. Untuk itu, anda sebagai pembaca juga diharapkan berkenan memberikan komentar berupa sharing masalah yg pernah dihadapi atau tips lainnya.

Oh ya, karena saya punya hobi fotografi, maka ijinkan saya menyisipkan foto-foto saya di blog ini. Meskipun foto2 tersebut mungkin tidak ada hubungannya dengan isi tulisan, mudah2an bisa menambah abstraksi blog ini….hehehe..





Baca Selengkapnya......

Thursday, 31 December 2009

Nilai tukar Rupiah 2009

Rupiah perkasa...!
"Mantablah..." kata teman saya yang sempat rugi besar akibat memprediksi rupiah akan loyo di tahun 2009. Banyak orang melakukan spekulasi membeli valuta asing, terutama US Dollar terhadap Rupiah. Cut loss...lah mereka...
Ya itulah nasib nilai tukar rupiah di tahun 2009. Perkasa..positif... pokoknya oke bangets.




Baca Selengkapnya......

Monday, 14 September 2009

Nungguin Unilever Indonesia (UNVR)

“… Rinsonya mau habis nih….. Ntar kalo sempat ke karfu (carrefour), beliin Rinso ya…”
Mungkin permintaan itu sering mampir ke telinga anda ya..?

Iya lah… Tiap orang butuh Rinso untuk mencuci pakaian. Sejak bayi dilahirkan sampai menjadi manusia tua, dia butuh Rinso… walah gue kok malah promosi nih ah…

Kalau anda seorang ibu rumah tangga, mantan anak kost atau sekarang ini masih kost..hehehe.. dan pernah nyuci baju sendiri, ya pasti anda pernah makai Rinso lah…



Rinso itu salah satu merek produk andalan dari Unilever Indonesia, yang kebetulan aja merupakan saham publik di Bursa Efek Indonesia dengan kode UNVR



Unilever Indonesia adalah salah satu saham favorit saya. Saham ini bahkan menjadi salah satu saham wajib pada hampir semua reksadana saham.

Saham ini kayaknya gak ada matinye… gitu kalau orang betawi bilang. UNVR paling tahan gempuran berita negatif pasar. Kalau yang lain pada ancur, ini saham pasti berjaya. Kebalikannya juga berlaku. Kalau pasar lagi positif, UNVR “agak” ancur.

“Agak”?

Iya, ini saham pergerakannya cenderung relatif tidak simetris. Kalau harga saham UNVR ini turun, pasti sudah banyak penadah yang menunggu dibawah, termasuk gue..hehehehe.. artinya saham ini gak akan kepleset jauh… paling-paling habis kepleset langsung tegak berdiri lagi…

Secara fundamental, pengelola UNVR mempunyai komitmen yang tinggi untuk selalu menjadi pemenang. Spirit ini yang jarang ditemui di perusahaan publik lainnya. Contohnya sebelas merek dagang UNVR memenangi Best Brand 2009. Beritanya dapat dilihat disini.



Saya sudah masuk ke saham ini dan akan menambah sedikit posisi. Untuk itu saya sedang pasang mata atas saham ini. Mau ikutan?

Yuk kita lihat bagaimana perilaku UNVR di masa lalu dan kira2 bagaimana kedepannya.

Oh ya, kalau analisa saya salah ya mohon maaf dan tolong diingat bahwa materi ini semata-mata hanya untuk diskusi. Investasi yang anda lakukan sepenuhnya tanggung jawab anda sendiri. Setuju?

Ok, mari kita oprek UNVR.





Kalau kita tarik kebelakang hingga Oktober 2006 sampai dengan saat ini, pergerakan harga saham UNVR relatif “adem-ayem” tapi cenderung naik terus, meskipun tidak terlalu curam. Kenaikan terbesar terjadi pada periode 11 Juni 2009 sampai dengan 27 Juli 2009. Setelah itu UNVR cenderung konsolidasi pada kisaran harga Rp 10 ribu sampai dengan Rp 12 ribu. Nah di wilayah konsolidasi inilah saya mau mencoba melakukan penambahan eksposure UNVR.

Kira-kira di level harga berapa ya yang pas untuk masuk?



Paling gampang ya tunggu harga di tingkat Rp 10 ribu atau dibawahnya. Sekarang ini harga masih disekitar Rp 10.450 dan berada di tengah area Bollinger Band.

Pada saat terjadi siklus penurunan harga sebelumnya, harga terbawah terjadi di level Rp 10.049. Dan hal tersebut menempel pada kurva bawah Bollinger Band.

Penurunan harga pada siklus saat ini dimulai dengan terbentuknya Doji dan berakhir dengan adanya sedikit tekanan beli di level Rp 10.400 an. Siklus ini masih menempel kurva tengah Bollinger Band.



Bila mau ditunggu pada harga yang lebih rendah lagi, kita bisa menggunakan ancer2 kurva bawah BB yang kira2 berada di level Rp 9900.

Saya prediksi sebelum menyentuh Rp 10 ribu, pasti banyak pengepul yang siap menampung UNVR. Kalau memang harga meluncur terus hingga dibawah Rp 10 ribu, pasti indeks JCI lagi ijo banget atau lagi bullish. Mungkin nggak sih?

Pagi hari 14 September 2009 saya coba lihat bid-offer UNVR memang kebanyakan orang ngantri di 10 ribu.



Dari analisa singkat dan sangat simpel ini saya akan coba tunggu dan masuk di level Rp 9.950 dengan target PT pada level Rp 11 ribuan.

Atau anda punya entry level harga yang berbeda?

Mudah2an dapat bermanfaat.

Baca Selengkapnya......

Wednesday, 9 September 2009

Strategi Investasi Persiapan Dana Pendidikan Anak

Sebelumnya saya sudah posting disini bagaimana menghitung berapa dana Rupiah yang harus kita tabung per bulannya supaya bisa menutup biaya uang masuk sekolah anak.

Nah di postingan ini, saya mau cerita satu alternatif strategi investasi yang bisa digunakan untuk menjadikan uang kita “bekerja keras” sehingga diharapkan kita bisa mencapai tujuan keuangan lebih cepat dibandingkan dengan yang direncanakan sebelumnya.

Strategi ini mempunyai risiko yang perlu anda pelajari sebelum melakukannya. Risiko terbesar adalah berkurangnya dana tabungan anda karena turunnya harga saham dan atau menurunnya harga obligasi dan anda melakukan penjualan obligasi sebelum jatuh tempo.
Selain risiko yang bersifat negatif tersebut di atas, anda juga harus menyadari bahwa investasi mengandung risiko positif yang besar pula. Karena harga saham yang anda beli naik harganya berkali-kali lipat, maka uang anda di saham bertambah berkali-kali lipat juga sehingga anda menjadi tambah kaya-raya.

Berani ?


Di postingan sebelumnya, saya sampaikan 3 alternatif cara mengumpulkan uang untuk menyiapkan dana pendidikan anak.

Pertama, menabung secara bulanan. Menabung bulanan ini menggunakan asumsi tidak ada bunga atau kupon atau keuntungan sama sekali dari uang tabungan kita itu. Ya bisa dianalogikan dengan menyimpan uang di bawah kasur…hehehe..

Kedua, investasi sekaligus. Sebenarnya cara ini yang paling enak, sayang tidak semua orang bisa langsung punya duit banyak pada satu waktu.

Ketiga, investasi secara bulanan. Cara ini seperti cara yang pertama, namun telah mengasumsikan adanya bunga atau penerimaan dari penempatan uang kita di sebuah instrumen investasi (saham, deposito, valas, emas, atau obligasi).

Nah cara yang menurut saya paling konservatif untuk dilakukan adalah campuran dari cara pertama dan ketiga.

Caranya adalah menabung Rupiah secara bulanan sejumlah Rp xxx dari hasil perhitungan menabung bulanan, selanjutnya kalau dananya sudah mencapai jumlah-jumlah tertentu maka akan dilakukan kegiatan investasi yang paling optimal.

Lebih jelasnya akan saya gunakan tabel-tabel sebagai berikut :











Kalau anda perhatikan baik-baik, pada kolom tabungan, ada tiga seri jumlah yang berbeda, yaitu Rp 2.397.88,32 dari bulan 1 tahun 2009 hingga bulan 36 tahun 2012, Rp 2.013.880,32 dari bulan 37 tahun 2013 hingga bulan 72 tahun 2015, Rp 1.433.272,32 dari bulan 73 tahun 2016 hingga bulan 108 tahun 2018. Setoran per bulan akan semakin mengecil.

Nah dari tabel tersebut di atas, saya simulasikan satu strategi yang bisa dilakukan secara mudah, yaitu locked-in, investasi saham dan investasi di ORI.

Strategi ini mengasumsikan bahwa kondisi perekonomian akan semakin membaik dan tingkat bunga akan cenderung menurun atau setidaknya tidak mengalami kenaikan.

Dari bulan 1 sampai dengan bulan ke 6, tabungan akan terkumpul sejumlah Rp 14,38 juta. Jumlah ini sudah bisa menutup biaya uang muka sekolah untuk SMP sebesar Rp 13,8juta. Jumlah tabungan ini harus disisihkan ke tempat yang aman, misalnya kedalam deposito atau reksadana pasar uang.

Selanjutnya, jumlah uang yang akan terkumpul dari bulan 6 hingga 11 akan sebesar Rp 11,9 juta. Uang ini akan diinvestasikan ke dalam saham. Kenapa? Karena dengan jumlah tersebut, anda sudah bisa buka rekening saham di salah satu broker saham. Mudah2an pada saat itu, masih banyak saham bagus (blue chip) dengan harga yang terjangkau. Misalnya, harga saham Unilever per hari ini Rp 10.900, maka kalau beli 2 lot akan membutuhkan uang sejumlah Rp 10.900.000,-. Uang anda cuman sisa Rp 1 juta… hehehe.. lumayan lah bisa beli 2 lot UNVR. Kalau harga-harga saham blue-chips sudah mahal, ya beli saham yang di second atau third liner saja.

Setelah investasi di saham, bagaimana selanjutnya?

Saya usul masuk ke Obligasi Ritel Indonesia atau biasa disebut ORI. Tabungan dari bulan 12 hingga 19, yaitu sejumlah Rp 19 jutaan, sebaiknya diinvestasikan ke ORI yang akan menggantikan ORI3 yang akan jatuh tempo pada pertengahan tahun 2011. ORI yang akan dibeli mempunyai jangka waktu maturity tidak lebih dari 7 tahun. Karena anda hanya punya waktu senggang sekitar 7 tahun sebelum harus membayar biaya uang muka Universitas.

Strategi selanjutnya hampir sama, yaitu masuk ke ORI yang akan menggantikan ORI4 (sebesar Rp 36 juta) dan ORI5 (sebesar Rp 18,8 juta).

Pada bulan ke 65 sampai dengan bulan ke 108, anda dapat bebas memainkan tabungan anda tersebut. Bisa ke tabungan biasa atau deposito yang aman atau mencoba trading saham atau valas.

Dengan cara campuran seperti yang saya utarakan ini, mudah2an anda dapat mencapai target uang muka sekolah lebih cepat dari yang direncanakan. Atau dengan kalimat lain, waktunya bisa saja sama dengan yang direncanakan sebelumnya, namun jumlah uang yang didapatkan akan jauh lebih besar (tergantung bagaimana hasil investasi di saham dan obligasi).

Sekali lagi, strategi yang saya ungkapkan di atas hanya satu dari sekian alternatif strategi lainnya. Strategi tersebut sangat tergantung dari risk appetite anda, tingkat pemahaman anda terhadap sebuah instrumen investasi, time horizon investasi dan kondisi perkembangan perekonomian.

Semoga bermanfaat.


Baca Selengkapnya......
Related Posts with Thumbnails